Jumat, 29 September 2017

Tugas Softskill Komunikasi Bisnis

Bentuk Bentuk Komunikasi Bisnis

Dalam dunia bisnis, komunikasi bisnis memiliki dua bentuk yang lazim yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam berkomunikasi. Dua bentuk ini yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Berikut ini penjelasannya.
A. Komunikasi Verbal
Diambil dari kata dasarnya yaitu ‘verbal’, komunikasi verbal ini menggunakan satu kata atau lebih. Dalam dunia bisnis, bentuk komunikasi verbal ini digunakan baik secara tertulis maupun secara lisan dengan struktur dan terorganisasi dengan baik dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada komunikan atau penerima pesan. Dalam dunia bisnis, umumnya bentuk komunikasi verbal ini digunakan ketika sedang rapat, seminar, atau yang lainnya yang berhubungan dengan operasional perusahaan. Namun, kekurangan dari komunikasi verbal jika tidak dikuasai dengan baik maka akan timbul berbagai hal yang di antaranya:
1.      Keterbatasan Kata
Biasanya beberapa hal seperti benda, orang, atau sesuatu hal lain yang belum bisa disampaikan dengan menggunakan kata atau bahasa verbal. Sehingga komunikasi verbal pun tidak berjalan dengan baik dan lancar.
2.      Kata Ambigu
Setiap individu memiliki pemikiran masing-masing. Hal inilah yang membuat bahasa verbal menjadi bahasa yang dapat menimbulkan ambiguitas. Seperti halnya berkata ‘Orang itu tampan’. Belum tentu orang lain menganggap bahwa orang itu tampan. Sehingga orang lain akan menganggap bahwa orang itu tampan sifat dan hatinya.
3.      Kata Bias
Umumnya, kata-kata yang bias ini menyangkut soal budaya dari daerah tertentu. Seperti halnya suatu bahasa dari Jawa akan berbeda maknanya jika diartikan dalam bahasa Sunda. Contoh, orang mengatakan kata ‘gedhang’. Dalam bahasa Jawa, kata tersebut berarti ‘pisang’, sedangkan bahasa Sunda mengartikan bahwa kata itu adalah ‘pepaya’.  
4.      Percampuran Fakta
Komunikasi verbal dalam komunikasi bisnis ini sering terjadi percampuran fakta dan makna. Sehingga akan timbul pesan atau informasi yang baru dan bisa saja tidak sesuai dengan informasi atau pesan yang sebenarnya.

Komunikasi non verbal ini merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung menggunakan bahasa tanda, simbol, dan tubuh. Namun, simbol atau tanda-tanda tersebut dapat memberikan pelukisan atau deskripsi apa yang disampaikan. Namun, komunikasi non verbal ini hanya bisa dilakukan secara lisan. Kecuali pada sandi morse yang merupakan bahasa non verbal, melainkan menggunakan metode tertulis. (Baca juga: Etika Komunikasi Massa)
Perlu diperhatikan, bahwa kedua bentuk komunikasi tersebut memiliki hubungan yang erat dalam dunia bisnis, khususnya dalam komunikasi bisnis. Kedua bentuk tersebut akan saling menjalin dan melengkapi satu sama lain. Ketika bahasa verbal tidak bisa disampaikan, maka bahasa non verbal yang berperan, dan juga sebaliknya. (Baca juga: Sejarah Perkembangan Alat Komunikasi)

Jenis Komunikasi Bisnis
Di dalam ilmu komunikasi, komunikasi bisnis dibedakan menjadi beberapa bentuk berdasarkan penyampaian, perilaku, ruang lingkup, aliran komunikasi, peran individu, dan jumlah peran. Berikut ini penjelasannya.
A. Komunikasi Bisnis Menurut Penyampaiannya
Komunikasi sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, walaupun tidak semua terampil dalam berkomunikasi. Berdasarkan penyampaiannya, komunikasi dibedakan menjadi 2 yaitu: (Baca juga: Sejarah Televisi Indonesia)
1.      Komunikasi Lisan
Komunikasi lisan merupakan metode komunikasi yang dilakukan secara langsung tanpa adanya batas dari jarak atau dilakukan secara bertatap muka. Komunikasi lisan ini pun dibedakan menjadi dua macam yaitu:
·         Komunikasi Verbal yang disampaikan menggunakan kata-kata atau dengan bahasa.
·         Komunikasi non verbal yang disampaikan menggunakan tanda-tanda, simbol, bahasa tubuh, wajah, nada bicara, hingga penekanan kalimat.
2.      Komunikasi Tertulis
Secara singkat, komunikasi tertulis ini dilakukan dengan metode tulisan. Umumnya, komunikasi tertulis ini contohnya seperti surat, naskah, blangko, dan lain sebagainya yang tujuannya adalah menyampaikan pesan atau informasi. Dalam komunikasi bisnis, komunikasi tertulis ini sering digunakan ketika mereka mengadakan perjanjian, mengirim surat permintaan barang, dan lain sebagainya
Dalam komunikasi tertulis ini alangkah baiknya dibaca terlebih dahulu sebelum disampaikan ke komunikan atau si penerima pesan. Karena komunikasi tertulis ini lebih mengandung resiko yang lebih besar dibandingkan dengan komunikasi lisan. Terkecuali jika komunikasi lisan ini terekam. Sehingga, komunikasi tertulis ini perlu dibuat dengan bahasa yang mudah dan aman.
B. Komunikasi Bisnis Menurut Perilaku
Berdasarkan perilaku, komunikasi ini terjadi secara otomatis, sehingga dapat dikatakan bahwa jenis komunikasi ini juga dipengaruhi oleh adanya situasi dan kondisi dari individu baik komunikator maupun komunikan. Selain itu, komunikasi bisnis menurut perilaku ini juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan atmosfer sekitar. (Baca juga: Pengertian Media Menurut Para Ahli)
Komunikasi bisnis menurut perilaku dibedakan menjadi beberapa jenis yang di antaranya:
1.      Komunikasi Formal
Komunikasi formal ini merupakan jenis komunikasi yang tertata benar sesuai dengan kaidah suatu kebijakan ataupun EYD. Umumnya, komunikasi formal ini sebagian besar bersifat kolerasional keluar atau ke dalam dari vitalitas potensi-potensinya. Nah, korelasi tersebutlah yang membedakan makna dan sifat dari subyek ataupun obyek komunikasi. Pada komunikasi bisnis, komunikasi formal ini terjadi ketika berada di situasi rapat perusahaan, konferensi, seminar, atau hal-hal lain yang bersifat resmi dan formal.
2.      Komunikasi Informal
Komunikasi informal ini merupakan komunikasi yang sifatnya desas-desus atau belum pasti sumber komunikasinya. Nah, desas-desus inilah yang sering mengalami tumpang tindih dengan beberapa hal yang lain. Dengan kata lain, komunikasi informal ini akan dapat memberikan sumbangsih beberapa informasi yang belum tahu kebenarannya. Sederhananya, komunikasi informal ini merupakan intermezzo dari suatu komunikasi yang formal untuk meringankan pembicaraan, ketika pembicaraan mulai tegang dan memuncak.
Namun, walaupun komunikasi informal ini dinilai bersifat desas-desus, komunikasi informal ini memiliki peranan penting dalam suatu perusahaan atau dalam komunikasi bisnis, yang di antaranya:
Komunikasi Non-Informal
Komunikasi non-informal ini biasanya digunakan saat waktu renggang atau santai. Umumnya, komunikasi jenis ini digunakan oleh individu yang kedudukan jabatannya sama. Seperti halnya karyawan dengan karyawan.
C. Komunikasi Bisnis Menurut Ruang Lingkup
Berdasarkan ruang lingkup, komunikasi bisnis ini dibedakan menjadi beberapa jenis di antaranya: (Baca juga: Strategi Komunikasi Pemasaran)


1.      Komunikasi Internal
Komunikasi internal ini merupakan jenis komunikasi yang terjadi di dalam suatu lingkungan perusahaan atau organisasi bisnis. Dalam komunikasi internal ini dibedakan menjadi 3 macam yang di antaranya:
·         Komunikasi Horizontal yang merupakan komunikasi yang terjadi antar anggota staff. Umumnya, komunikasi jenis ini berlangsung secara tidak formal.
·         Komunikasi Vertikal yang merupakan komunikasi yang terjadi antara pimpinan dengan staff. Contoh komunikasi ini seperti teguran, pujian, atau sebagainya.
·         Komunikasi Diagonal yang merupakan komunikasi yang terjadi antara pimpinan dengan orang yang tidak berkedudukan yang sama. (Baca juga: Prospek Kerja Ilmu Komunikasi)
2.      Komunikasi Eksternal
Komunikasi ektsernal ini terjadi antara anggota perusahaan dengan individu luar perusahaan. Umumnya, komunikasi ini terjadi pada pimpinan perusahaan kepada audiensi di luar kepimimpinannya. Komunikasi eksternal ini dapat berbentuk:
·         Eksposisi, pameran, promosi, dan publikasi.
·         Konferensi pers.
·         Siaran radio, televisi.
·         Bakti sosial atau pengabdian.
·         Simulasi atau penyuluhan.
D. Komunikasi Bisnis Menurut Aliran Informasi
Informasi atau pesan merupakan unsur penting dalam proses komunikasi bisnis. Informasi atau pesan dalam komunikasi bisnis inilah yang menentukan macam-macam komunikasi. Dalam komunikasi bisnis menurut aliran informasi ini dibedakan menjadi beberapa jenis di antaranya:
·         Teori Jarum Hipodermik
·         Teori Komunikasi Persuasif
·         Teori Interaksi Simbolik
1.      Komunikasi Satu Arah
Komunikasi satu arah atau simplex merupakan jenis komunikasi yang terjadi dalam satu pihak saja. Umumnya, komunikasi ini terjadi ketika berada di situasi atau kondisi darurat. Sehingga jenis komunikasi ini bersifat mendadak.
2.      Komunikasi Dua Arah
Komunikasi dua arah ini merupakan jenis komunikasi yang menimbulkan timbale balik atau feedback, yang mana komunikasi ini akan saling menguntungkan dari kedua belah pihak, baik komunikator maupun komunikannya. (Baca juga: Macam-Macam Komposisi Fotografi)
3.      Komunikasi Ke Atas
Komunikasi ke atas ini merupakan jenis komunikasi yang terjadi adanya komunikasi antara pegawai ke pemimpin perusahaan atau ke individu yang jabatannya lebih tinggi.
4.      Komunikasi Ke Bawah
Komunikasi ke bawah ini kebalikan dari komunikasi ke atas, yaitu komunikasi yang terjadi pada pemimpin perusahaan ke pegawainya. (Baca juga: Teori Semiotika Charles Sander Peirce)
5.      Komunikasi Ke Samping
Sama halnya dengan komunikasi dua arah, namun pada komunikasi ke samping ini terjadi pada dua individu yang memiliki kedudukan atau jabatan yang sama.
Itulah jenis-jenis komunikasi bisnis yang perlu kita pahami. Namun dari sekian banyak jenis komunikasi bisnis di atas, mereka masih memiliki dua bentuk komunikasi yang sama dalam komunikasi bisnis, yaitu komunikasi bisnis verbal dan non verbal. (Baca juga: Teori Semiotika Roland Barthers)

Demikian penjelasan singkat terkait apa saja bentuk komunikasi bisnis yang ada di dalam ruang lingkup komunikasi


Tugas Softskill Komunikasi Bisnis

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI FORMAL DAN INFORMAL AKAN MENYEBABKAN TERCAPAINYA EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR
Oleh Andiwi Meifiliani

Abstraksi
keterbatasan yang dimiliki manusia menyebabkan manusia tidak dapat mencapai sebagian besar tujuan dan kebutuhan tanpa melalui kerjasama dengan orang lain. Hal ini memerlukan adanya komunikasi, baik itu komunikasi formal maupun komunikasi informal. Dengan begitu akan mengurangi adanya konflik dalam organisasi, yaitu konflik yang bersifat fungsional adalah konflik yang keberadaannya justru menunjang tujuan organisasi dan konflik yang bersifat disfungsional yang menghambat tujuan organisasi. Sehingga diperlukan adanya usaha penyampaian tugas dan pekerjaan dalam organisasi yang mampu diterima oleh karyawan. Demikian jugs rasa ingin tahu dan bawahan maupun pimpinan dapat disalurkan.
Komunikasi di sini dimaksudkan agar hubungan yang terjadi dalam organisasi dapat berjalan dengan baik. Bawahan dapat menyampaikan pendapat, saran usulan seperti yang diharapkan oleh bawahan maupun pimpinannya.
Dan analisa hubungan variabel dengan menggunakan teknik korelasi product moment penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: hasil dari rx1y sebesar 0,498, rX2Y sebesar 0,5100 kemudian untuk mengetahui pengaruh ketiga variabel digunakan rumus korelasi ganda dengan hasil rx1X2 = 0,614.
Untuk mengetahui hubungan tersebut dicari nilai derajat kebebasannya dan diperoleh hasil sebesar 20 kemudian dikonsultasikan dengan tabel C yang menunjukkan angka 0,614 pada taraf kepercayaan 99% atau signifikan karena diperoleh hasil nilai hitung lebih besar dari nilai tabel.
Dengan demikian hipotesa yang penulis ajukan berbunyi semakin efektif komunikasi formal dan informal maka akan menyebabkan tingginya efektivitas kerja, terbukti dan dapat diterima. kebenarannya.

Kata Kunci Efektivitas Kerja, Komunikasi Formal dan Informal 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 

Dalam setiap organisasi baik organisasi swasta maupun pemerintahan yang terdiri dari berbagai macam kegiatan, di mana kegiatan yang satu mempunyai jalinan hubungan dengan kegiatan yang lainnya sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh untuk diarahkan terhadap tujuan yang telah ditetapkan.
Berbagal tindakan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi adalah sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi di mana, banyak faktorfaktor yang akan mempengaruhinya, salah satu faktor yang terpenting adalah manusia.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Sarwoto sebagai berikut :
Organisasi pada dasarnya mengandung pengertian suatu kerja JURNAL TRANSLITERA EDISI 3/2015 2 sama antara manusia-manusia untuk mencapai tujuan yang sama. Dari pengertian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hakekat dan organisasi adalah kerjasama antar manusia-manusia. Dari hakekat ini unsur manusia dapat dianggap sebagai unsur terpenting karena tidak adanya unsur manusia akan mengadakan ekstensi dari pada organisasi (1981:134).
Dari pendapat tersebut di atas dijelaskan bahwa unsur manusia adalah unsur terpenting dan menentukan keberhasilan organisasi dalam merealisir tujuan yang telah ditetapkan.
Oleh karena, keterbatasan yang dimiliki manusia menyebabkan manusia tidak dapat mencapai sebagian besar tujuan dan kebutuhan tanpa melalui kerjasama dengan orang lain. Hal ini memerlukan adanya komunikasi, baik itu komunikasi formal maupun komunikasi informal. Dengan begitu akan mengurangi adanya konflik dalam organisasi, yaitu konflik yang bersifat fungsional adalah konflik yang keberadaannya justru menunjang tujuan organisasi dan konflik yang bersifat disfungsional yang menghambat tujuan organisasi. Sehingga diperlukan adanya usaha penyampaian tugas dan pekerjaan dalam organisasi yang mampu diterima oleh karyawan. Demikian jugs rasa ingin tahu dan bawahan maupun pimpinan dapat disalurkan.
Komunikasi di sini dimaksudkan agar hubungan yang terjadi dalam organisasi dapat berjalan dengan baik. Bawahan dapat menyampaikan pendapat, saran usulan seperti yang diharapkan oleh bawahan maupun pimpinannya.
Seperti telah penulis kemukakan bahwa salah satu unsur terpenting bagi tercapainya tujuan organisasi adalah manusia. Unsur ini menyangkut tentang semangat kerja dari para pegawainya sebab dengan semangat kerja yang tinggi berarti tenaga kerja atau pegawai bekerja secara, tepat dan baik, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan lancar. Sebaliknya apabila dalam organisasi para, karyawatinya tidak memiliki semangat kerja, niscaya organisasi tersebut akan mengalami kerugian di samping terhambatnya pencapaian tujuan, pekerjaan banyak mengalami kesalahan. Hal ini akan menyebabkan tidak efektif dan efisiennya tujuan organisasi. Oleh karena itu untuk perkembangan dan kemajuan organisasi harus meningkatkan efektivitas kerja para, pegawai yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu produktivitas, keseluruhan prestasi, kepuasan kerja, hubungan kerja sama, semangat kerja dan kepatuhan kerja.
Dari uraian di atas dan hasil penelitian dengan menggunakan teknik pengamatan dan wawancara pada sebagian pegawai RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar , ternyata terdapat beberapa permasalahan dalam komunikasi formal dan informal, sebagai berikut :
1) Kurang adanya komunikasi dari pimpinan dengan bawahan mengenai tugas-tugas yang dikerjakan. Hal ini terlihat dari banyaknya bawahan yang tidak hadir pada waktu diadakannya rapat sehingga bawahan tidak tahu tugas-tugas yang dikerjakannya sehingga kerja pegawai menurun, ini dapat dibuktikan seperti pada tabel sebagai berikut:







Dengan adanya fakta, tersebut, maka dapat dikatakan bahwa prestasi kerja pegawai kurang baik.
2) Kurang adanya pujian yang diberikan oleh pimpinan terhadap bawahannya mengenai tugastugas yang dikerjakannya. Hal ini nampak bahwa pimpinan kurang memberikan perhatian atau dorongan pada bawahan yang prestasinya bagus.
3) Adanya perbedaan pendapat yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara pimpinan dengan bawahan. Hal ini terlihat dengan pimpinan yang tidak mau mendengarkan pendapat bawahan sehingga menyebabkan bawahan tidak mau mengeluarkan pendapat atau ideidenya untuk kemajuan kantor.
 4) Kurang adanya kekompakan antara ide bawahan dengan ide pimpinan. Hal ini nampak dari pimpinan yang tidak memberikan kesempatan pada bawahan untuk berpardsipasi dalam memberikan ide untuk kemajuan kantor.

Sedangkan dalam mewujudkan tercapainya efektivitas kerja pegawai RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar , terdapat beberapa permasalahan yaitu :
1) Tingkat kemampuan pegawai dalam menjalankan tugas kurang mempertanggung jawabkan dan tidak selesai tepat pada waktunya. Hal ini ditandai dengan banyaknya tugas-tugas yang menumpuk
2) Kepuasan Pasien kurang. Hal ini tampak dari adanya keluhankeluhan dari beberapa pasien mengenai tugas yang dihadapi maupun suasana kerja di lingkungan kantor.
3) Kurangnya tingkat kepatuhan kerja pegawai. Hal ini terlihat dari adanya kecenderungan untuk datang dan meninggalkan kantor tidak sesuai dengan ketentuan jam kerja yang berlaku, disamping itu juga terlihat dari adanya beberapa pegawai yang mendapat peringatan tertulis maupun lesan karena pelanggaran disiplin.
4) Kurang adanya kerjasama antar pegawai di Kantor RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar . Hal ini ditandai dengan tidak adanya kesediaan antar pegawai untuk membantu apabila ada kesulitan dalam pelaksanaan tugas.

B. Rumusan Masalah 
Dengan latar belakang masalah seperti yang diuraikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Apakah dengan efektifnya tingkat komunikasi formal dan informal akan menyebabkan tercapainya efektivitas kerja pegawai RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar ?”

HASIL PENELITIAN
A. Diskripsi Lokasi Penelitian 

Guna mendapatkan data dalam menyusun penelitian ini penulis memilih lokasi pada RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar .
1. Kedudukan Fungsi dan Tugas RSUD Mardi Waluyo
Secara hirarki RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar merupakan bagian dari Sekretariat Wilayah Blitar beserta bagian-bagian lain seperti bagian pemerintahan bagian hukum, bagian organisasi dan tata laksana, bagian kesra, bagian kepegawaian. Bagian lingkungan hidup adalah sebagai unsur yang membantu penyelenggaraan pemerintahan secara berdaya guna sesuai dengan perkembangan pemerintahan kota Blitar , dalam rangka pengelolaan masalah yang berkaitan dengan lingkungan.
Berdasarkan keputusan Walikota Blitar Nomor: 004 Tahun 1998 tentang pedoman uraian tugas pada administrasi medis RSUD Mardi waluyo mempunyai fungsi:
a. Menyusun rencana kerja bidang lingkungan hidup.
b. Menyusun rencana kegiatan bagian lingkungan hidup berdasarkan hasil evaluasi kerja, sebagai pedoman di dalam melaksanakan tugas.
c. Melaksanakan tugas bidang lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Mengumpulkan penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pembinaan ANDAL.
e. Mengumpulkan dan mengolah data, mengkoordinasikan kegiatan dalam rangka penyusunan program, pembinaan perwujudan lingkungan pemukiman dan perkotaan yang sehat .
f. Mengumpulkan dan mengolah data, mengkoordinasikan kegiatan dalam rangka penyusunan program, pembinaan penanggulangan pencemaran lingkungan.
 g. Melaksanakan koordinasi dengan sub bagian atau unit kerja lain yang terkait bidang tugasnya.
h. Melaksanakan sistem jaringan dokumentasi dan informasi (SJDI) hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan.

RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian seperti yang tercantum pada pasal 52 dan pasal 51, yaitu :
a. Bagian Kelompok Jabatan Fungsional
b. Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran (PP)
c. Kepala Seksi Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL



Dari masing-masing bagian mempunyai peranan yang berbedabeda dan penulis akan uraikan sebagai berikut :
a. Bagian Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas, sebagian tugas dan fungsi Kepala Kantor sesuai dengan keahlian dan kebutuhan. Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana yang dimaksud terdiri dari sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahlian. Setiap kelompok tersebut dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk oleh Kepala RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar dan bertanggung jawab kepada kepala kantor. Jumlah jabatan fungsional tersebut ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan fungsional tersebut diatur dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
b. Kepala Seksi mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :
- Melaksanakan tugas ANDAL sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku - Menyusun rencana kegiatan sub bagian ANDAL berdasarkan hasil evaluasi kerja sebagai pedoman di dalam melaksanakan tugas.
- Melaksanakan pengumpulan data dan bahan-bahan dalam rangka penyusunan program dan petunjuk teknis pembinaan analisa dampak lingkungan.
- Menghimpun permasalahan dan menganalisa terhadap program ANDAL
 - Mengikuti perkembangan dan mengadakan evaluasi tentang pelaksanaan program ANDAL.
- Mengumpulkan dan mengolah data mengkoordinasikan kegiatan pelestarian tanah, air, udara dan hutan dalam rangka perlindungan ekosistem.
- Melaksanakan koordinasi dengan sub bagian atau unit kerja lain yang terikat dalam bidang tugasnya.
 - Menyelenggarakan tertib administrasi dan membuat laporan berkala serta laporan tahunan.
- Melaksanakan tugas lain yang diberikan pimpinan.

c. Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran mempunyai tugas
- Melaksanakan tugas bidang pencemaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Menyusun rencana kegiatan sub bagian penanggulangan pencemaran berdasarkan hasil evaluasi kerja, sebagai pedoman di dalam melaksanakan tugas.
- Mempersiapkan bahan penyusunan pedoman dan petunjuk teknis untuk mengatasi timbulnya pencemaran lingkungan.
- Mengikuti perkembangan dan mengkoordinasikan pelaksanaan pencegahan dan penyelesaian sengketa lingkungan.
- Mencari dan menyebarluaskan bahan-bahan penyuluhan atau bahan informasi tentang bahaya akibat pencemaran dan tatacara penanggulangannya kepada masyarakat dan pemilik industri.
- Mengumpulkan data-data dan bahan-bahan dalam rangka penyusunan program penanggulangan pencemaran lingkungan.
- Melaksanakan sistem jaringan dokumentasi dan informasi (SDJI) hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
- Melaksanakan koordinasi dengan sub bagian atau unit kerja lain yang terikat dalam bidang tugasnya.
 - Menyelenggarakan tertib administrasi dan membuat laporan berkala maupun laporan tahunan.
- Melaksanakan tugas, lain yang diberikan oleh atasan.

2. Struktur Organisasi
Dalam suatu organisasi, baik organisasi yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta, pasti memerlukan suatu jaringan hubungan antara bagian-bagian yang dalam organisasi tersebut yang tercermin dalam Struktur organisasi yang tujuannya adalah untuk memudahkan hubungan antara bagian-bagian, wewenang serta tanggung jawab masing-masing bagian.
Struktur organisasi dalam suatu organisasi merupakan kerangka yang terdiri dari satuan-satuan di mana masing-masing mempunyai peranan serta hubungan yang teratur dalam kesatuan yang utuh untuk memenuhi tujuan orgamsasi. Jadi struktur organisasi sebagai gambaran dari hubunganhubungan wewenang, tanggung jawab informasi serta, perintah dari pucuk pimpinan sampai tingkat paling bawah, biasanya tersusun dalam suatu hirarki. Adapun pola struktur organisasi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar adalah sebagai berikut :

3. Data Penunjang Komunikasi Formal
Sebagian data komunikasi formal berikut ini akan penulis sajikan tentang diskripsi kegiatan pegawai pada. RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar , sebagai berikut :



4. Data Penunjang Komunikasi Informal
Data penunjang komunikasi informal pada RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar yaitu sebagai berikut :



5. Data Penunjang Variabel Efektivitas Kerja Pegawai
Data penunjang variabel efektivitas kerja pegawai penulis sajikan dalam bentuk inventaris peralatan kantor yang akan menunjang efektivitas kerja pegawai, daftar pegawai berdasarkan tingkat pendidikan, penulis sajikan dalam bentuk sebagai berikut :






B. Diskripsi Variabel 
1. Variabel Komunikasi Formal 
a. Data Hasil Dokumentasi 



Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
R (Jarak pengukuran) = nilai tertinggi – nilai terendah
R = 33 – 25 = 8
Setelah R diketahui langkah selanjutnya adalah i (lebar interval) dengan rumus sebagai berikut : i = jumlah kelas (R) Jarak pengukuran = 3 8 = 2,66 dibulatkan menjadi 3. Setelah diketahui lebar intervalnya maka penulis akan mengklasifikasikan dalam tiga kategori sebagai berikut : - Yang termasuk kategori tinggi adalah bagi responden dalam komformal, nilainya antara 31 – 33.
- Yang termasuk kategori sedang adalah bagi responden dalam komformal, nilainya antara 28 – 30.
- Yang termasuk kategori rendah adalah bagi responden dalam komformal, nilainya antara 25 – 27.





Kemudian setelah ditentukan klasifikasinya atau kategori penilaiannya dan masing-masing kelas, maka pelaksanaan komformal dapat disajikan dalam distribusi frekuensi jumlah nilai, seperti tabel di bawah ini :


Dari tabel di atas tampak bahwa dan 23 responden menganggap komunikasi formal dikategonikan tinggi sebanyak 6 orang atau 26,09%. Sedangkan responden yang menganggap komunikasi formal dikategonkan sedang sebanyak 10 orang atau 43,48% dan responden yang menganggap komformal dikategonikan rendah sebanyak 7 orang atau 30,43%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar pegawal Kantor Lingkungan Hidup Kota Blitar memberikan pernyataan bahwa komunikasi formal berkategorikan sedang.

2. Variabel Komunikasi Informal
a. Data Hasil Dokumentasi













b. Data Hasil Quasioner
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan untuk memperoleh data mengenai komunikasi informal pada. RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar , telah penulis sajikan melalui daftar pertanyaan dari nomor 12 sampai nomor 23.
Pengumpulan data dengan teknik quesioner ini menggunakan daftar pertanyaan tertutup dengan alternatif jawaban yang telah ditentukan sehingga responden dapat memilih salah satu jawaban sesuai dengan kondisi yang ada. Adapun setiap nomor pertanyaan penulis sediakan tiga alternatif jawaban dengan score atau nilai sebagai berikut :
- Apabila responden menjawab maka dikategorikan jawaban tinggi, dengan score atau nilai 3.
 - Apabila responden menjawab b maka dikategorikan jawaban sedang, dengan score atau nilai 2.
- Apabila responden menjawab c maka dikategorikan jawaban rendah dengan score atau nilai 1. Hasil jawaban responden tersebut secara, lebih lanjut dan lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Berdasarkan data dari tabel tampak bahwa nilai tertinggi yang dicapai oleh responden adalah 32, sedangkan jumlah nilai yang terendah adalah 24. Dengan demikian nilai-nilai tersebut dapat untuk dikategorikan rendah, sedang dan tingginya variabel komunikasi informal yang ada di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar . Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
R (Jarak pengukuran) = nilai tertinggi – nilai terendah
R = 33 – 25 = 8
Setelah R diketahui langkah selanjutnya adalah i (lebar interval) dengan rumus sebagai berikut :
 i = jumlah kelas
(R) Jarak pengukuran = 3 8 = 2,66 dibulatkan menjadi 3.

Setelah diketahui lebar intervalnya maka penulis akan mengklasifikasikan dalam tiga kategori sebagai berikut :
- Yang termasuk kategori tinggi adalah bagi responden dalam komunikasi informal nilainya antara. 30 – 32.
- Yang termasuk kategori sedang adalah bagi responden dalam komunikasi informal nilainya antara. 27 – 29.
- Yang termasuk kategori rendah adalah bagi responden dalam komunikasi informal nilainya antara 24 – 26.
Kemudian setelah ditentukan klasifikasinya atau kategori penilaiannya dari masing-masing kelas, maka pelaksanaan komunikasi informal dapat disajikan dalam distribusi frekuensi jumlah nilai, seperti tabel di bawah ini.

Dari tabel di atas, tampak bahwa dari 23 responden, sebanyak 15 orang atau 65,22% menganggap komunikasi informal berkategorikan tinggi, sebanyak 6 orang atau 26,09% berkategori sedang dan 2 orang atau 8,69% menganggap komunikasi informal berkategori rendah. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian pegawai Bagian Lingkungan Hidup Kota Blitar memberikan pernyataan bahwa komunikasi informal berkategorikan tinggi.

PENUTUP 
Kesimpulan Pokok 
Dan analisa hubungan variabel dengan menggunakan teknik korelasi product moment penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: hasil dari rx1y sebesar 0,498, rX2Y sebesar 0,5100 kemudian untuk mengetahui pengaruh ketiga variabel digunakan rumus korelasi ganda dengan hasil rx1X2 = 0,614.
Untuk mengetahui hubungan tersebut dicari nilai derajat kebebasannya dan diperoleh hasil sebesar 20 kemudian dikonsultasikan dengan tabel C yang menunjukkan angka 0,614 pada taraf kepercayaan 99% atau signifikan karena diperoleh hasil nilai hitung lebih besar dari nilai tabel.
Dengan demikian hipotesa yang penulis ajukan berbunyi semakin efektif komunikasi formal dan informal maka akan menyebabkan tingginya efektivitas kerja, terbukti dan dapat diterima. kebenarannya.
Saran-saran Setelah melihat kesimpulan di atas ternyata terdapat beberapa hal dari komunikasi formal dan informal yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat tercipta efektivitas kerja pegawai yang tinggi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut :
1. Seharusnya pimpinan dalam memberikan petunjuk tentang tugas kepada bawahan dilakukan dengan bertatap muka.
2. Pimpinan setelah memberikan perintah kepada bawahannya seharusnya menanyakan apakah perintah tersebut sudah jelas atau perlu diulang.
3. Pimpinan jarang terlalu sering menegur apabila hasil pelaksanaan tugas yang diberikan tidak sesuai dengan kehendaknya.
4. Seharusnya pimpinan memberikan pujian kepada bawahannya apabila tugastugas yang diberikan kepada bawahan telah selesai dikerjakan dengan baik.
 5. Seharusnya pimpinan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan masukan atau informasi.



DAFTAR PUSTAKA 
Ensiklopedia Administrasi, Ed, Gunung Agung, Jakarta, 1997.
Jacob Vreden Bregt, Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1981.
Kartini Kartono, Pimpinan dan Kepemimpinan, CV. Rajawali, Jakarta, 1989. Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta, 1984.
Masyuri HP, Asas-asas Komunikasi, IKIP Semarang, 1991.
Onong Uchjana Effendi, MA., Human Relations dalam Management, Alumni Bandung, 1986.
Onong Uchjana Effendi, MA., Komunikasi dan Modernisasi, Alumni Bandung, 1997.
Slamet, Y. Analisa Data Kuantitatif dan Data Sosial, Fisip UNS, Blitar , 1993. Soekadi Darsowiryono, Komunikasi Administrasi, Fisip UNS, Blitar , 1989. Sutrisno Hadi,,Statistik 2, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 1989. Wahyu Budianto, SSos., Human Relation, Blitar , 2000.
A.W. Wijaya, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Penerbit PT. Bina Aksara, Jakarta, 1986.
I.G. Wursanto, Drs., Pokok-pokok Pengertian Human Relation dalam Manajemen, Pustaka Dian, Jakarta, 1985.
 I.G. Wursanto, Drs., Etika Komunikasi Kantor, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1990.
A.W. Wijaya, Drs., Ilmu Komunikasi Pengantar Study Bina Aksara, 1988. George D. Halsey., Bagaimana Memimpin dan Menguasai Pegawai Saudara, terjemahan Anaz S, Bagindo Jaya Sakti, Jakarta 1965.
H. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada, Universitas Jogyakarta, 1983.
Kamarudin, Drs., Analisa Organisasi Managemen Modern, Jakarta, 1988. Keith Davis, Human Relation at Work, Mc. Grave Hill Book Co, Mc Kogosukasha co, Ltd, Tokyo, 1962. M. Nasir, pH.D., Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981.
Sarwab, Drs., Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen, Ghalia-Indonesia, 1981. Sukadi Darsosuwiryono, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Penerbit PT. Bina Aksara, Jakarta, 1977.



Kesimpulan :

Komunikasi formal adalah suatu proses komunikasi yang bersifat resmi dan biasanya dilakukan di dalam lembaga formal melalui garis perintah atau sifatnya instruktif , berdasarkan struktur organisasi oleh pelaku yang berkomunikasi sebagai petugas organisasi dengan status masing - masing yang tujuannya menyampaikan pesan yang terkait dengan kepentingan dinas . Suatu komunikasi juga dapat dikatakan formal ketika komunikasi antara dua orang atau lebih yang ada pada suatu organisasi dilakukan berdasarkan prinsip - prinsip dan struktur organisasi .
Komunikasi Informal adalah komunikasi antara orang yang ada dalam suatu organisasi , akan tetapi tidak direncanakan atau tidak ditentukan dalam struktur organisasi . Fungsi komunikasi informal adalah untuk memelihara hubungan sosial persahabatan kelompok informal , penyebaran informasi yang bersifat pribadi dan privat seperti isu , gosip , atau rumor . Tentang komunikasi informal sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan informasi yang masih belum jelas dan tidak akurat , carilah sumber informasi yang dapat dipercaya. Komunikasi yang efektif  baik formal maupun informal akan mempengaruhi efektifitas  kerja contohnya pada pegawai RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR.

Setelah membaca hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa, komunikasi formal dan informal yang efektif akan menyebabkan tingginya efektivitas kerja, terbukti dan dapat diterima. kebenarannya.Setelah melihat kesimpulan di atas ternyata terdapat beberapa hal dari komunikasi formal dan informal yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat tercipta efektivitas kerja pegawai yang tinggi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut : , Seharusnya pimpinan dalam memberikan petunjuk tentang tugas kepada bawahan dilakukan dengan bertatap muka, Seharusnya pimpinan memberikan pujian kepada bawahannya apabila tugastugas yang diberikan kepada bawahan telah selesai dikerjakan dengan baik, Seharusnya pimpinan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan masukan atau informasi, Pimpinan setelah memberikan perintah kepada bawahannya seharusnya menanyakan apakah perintah tersebut sudah jelas atau perlu diulang.


sumber : http://jurnal.unisbablitar.ac.id/?act=detail&id=53